Gelembung Ekonomi

Dua Sisi News

Economic bubble mengacu kepada suatu kondisi dimana penilaian (harga) sebuah produk atau aset naik di luar angka kewajaran dan biasanya dalam waktu yang relatif cepat.

Contoh kasus di Indonesia yang baru terjadi adalah belum lama ini sebagian masyarakat Indonesia mendadak dilanda demam batu akik, dimana bapak-bapak, ibu-ibu dan kakek nenek beserta cucunya dan kerabatnya memburu batu akik.

Hal ini membuat harga batu akik naik secara luar biasa sampai berkali lipat. Karena kenaikan ini tanpa alasan yang jelas dan terjadi secara cepat, maka gelembung akik pun akhirnya tak terhindarkan. Kenaikan harga ini melesat tidak lagi ditopang hukum paling penting dalam ekonomi, yaitu permintaan dan penawaran sehingga akhirnya gelembung pun pecah dan demam batu akik pun berakhir menyisakan duka bagi investor akik.

Namun karena batu akik ini kecil nilainya bagi perekonomian Indonesia maka tak membawa dampak yang berarti, kecuali bagi pemburu yang sudah kadung membelinya dan tak mampu menjualnya kembali.

Contoh yang lebih besar adalah kala Krisis Ekonomi Indonesia 1997 yang sebabnya sering terlupakan atau tak diketahui sama sekali oleh generasi muda saat ini walau dampaknya masih terasa sampai hari ini, misalnya nilai kurs Rupiah yang rendah.

Pada masa era Orde Baru, ekonomi di Indonesia (dan beberapa negara berkembang lainnya) tumbuh karena iklim investasi yang dikatakan sangat baik, dengan bunga bank sampai lebih dari 12%, sebelum dimulainya krisis.

Bunga ini tentunya jauh lebih tinggi daripada negara maju sehingga uang pun mengalir masuk ke Indonesia karena investor mengharapkan untung yang lebih besar. Padahal dana masuk seringkali digunakan untuk hal-hal tak produktif. Ini adalah titik awal gelembung pertama.

Dalam hal investasi, tentunya bila kita ingin mampu membayar pinjaman dengan bunga 12% maka hasil produksi dari pinjaman tersebut harus lebih tinggi daripada angka 12%. Namun, dalam kenyataannya banyak sekali dari jumlah investasi yang dikorupsi luar biasa oleh Semua Juga Tahu Siapa sehingga jumlah produksi atas investasi itu hampir mustahil dapat memberikan hasil investasi yang diharapkan secara berkesinambungan karena nilai aset atas investasi tersebut sebenarnya jauh di bawah seharusnya. Inilah gelembung kedua.

Pada masa Orde Baru, nilai kurs Rupiah yang berada di angka maksimal Rp2.600 per USD1 juga dipatok oleh pemerintah dengan menguras cadangan devisa ditambah penggunaan dana pinjaman dimana nilai Rupiah harusnya tak sekuat itu. Inilah gelembung ketiga.

Beberapa gelembung di atas mulai meletus satu per satu ketika Amerika Serikat saat itu memulai proses pemulihan ekonominya dan menaikkan suku bunga guna mengendalikan laju inflasi dalam negeri mereka.

Ingat, investor menaruh uang mereka di negara yang kurang kuat karena selisih pengembalian bila dibanding ditaruh di negara maju.

Karena AS sebagai negara maju menaikkan bunga, maka sebagian investor mulai menarik uangnya dari Indonesia untuk dipindahkan.

Kondisi ini membuat bunga yang tadinya sudah di 12% dinaikkan lagi lebih tinggi guna menahan larinya modal. Bunga yang lebih tinggi ini tentu menyebabkan pembayaran menjadi terlebih sulit. Gelembung pertama pun mulai bocor.

Ketika aset-aset hasil investasi ingin dijual guna pengembalian, ternyata aset-aset tersebut tidaklah memiliki nilai sebagaimana harusnya karena sudah dikorupsi maksimal. Gelembung kedua pun pecah. Hal ini juga meruntuhkan kepercayaan investor atas Indonesia sehingga gelembung pertama pun meletus. Kondisi ini menyebabkan terjadinya rush penarikan uang besar-besaran di beberapa bank besar.

Karena gelembung pertama dan kedua, nilai Rupiah pun akhirnya terjun bebas karena pemerintah tak lagi mampu mematok nilai kurs Rupiah. Gelembung ketiga pun pecah.

Semua gelembung ini mengakibatkan Indonesia jatuh ke dalam masa paling kelam bagi kaum millenial Indonesia. ( Kenzo Variant )

Please follow and like us:
0
Advertisements

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1
Adakah yang dapat kami bantu ...???
Powered by
Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Facebook
Facebook
YOUTUBE
YOUTUBE
PINTEREST
PINTEREST
LINKEDIN
INSTAGRAM

Enjoy this blog? Please spread the word :)